SUMBA TIMUR | LENSANUSA.COM – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Waingapu menjadi tempat yang tak terlupakan bagi Silas Lulu. Bukan semata sebagai tempat menjalani masa hukuman, tetapi sebagai ruang perenungan yang mengubah arah hidupnya.
Silas, yang memperoleh status bebas bersyarat pada tahun 2025, membagikan kisah perjalanannya saat ditemui tim lensanusa.com pada Selasa (10/2/2026). Ia mengaku, masa-masa di dalam lapas justru menjadi titik balik spiritual dalam hidupnya.
“Di dalam lapas, saya punya banyak waktu untuk bersekutu dan memuji nama Tuhan. Dari situlah saya mulai sadar akan makna hidup saya yang sebenarnya,” ungkap Silas.
Menurutnya, proses perenungan dan pendekatan diri kepada Tuhan memberinya kekuatan untuk menerima masa lalu dan menata masa depan. Ia menyebut Lapas Kelas IIA Waingapu sebagai tempat yang bersejarah dalam perjalanan hidupnya karena di sanalah ia menemukan kesadaran dan pertobatan.
Namun, perjalanan setelah bebas bersyarat tidaklah mudah. Silas mengaku sempat mengalami trauma dan merasakan penolakan di tengah masyarakat.
“Awal keluar, saya masih merasa trauma. Penolakan dari sebagian masyarakat juga masih saya alami. Tapi saya tetap percaya bahwa Tuhan Yesus menerima saya apa adanya,” tuturnya dengan penuh keyakinan.
Tiga bulan pasca bebas bersyarat, Silas memutuskan untuk bangkit dan memulai kehidupan baru melalui dunia pertanian. Ia memilih bertani sebagai jalan untuk bertahan hidup sekaligus membuktikan kesungguhannya berubah.
Kini, ia mengolah lahan dengan peralatan sederhana dan manual. Berbagai komoditas seperti cabai, ubi, kangkung, jagung, dan tanaman lainnya ia tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Meski bekerja dengan keterbatasan alat dan modal, semangatnya tak surut. Baginya, setiap tetes keringat di ladang adalah simbol harapan dan bukti keseriusannya menjalani hidup yang lebih baik.
Silas berharap masyarakat dapat memberikan ruang bagi mantan warga binaan untuk berubah dan kembali berkontribusi secara positif.
“Setiap orang bisa salah, tapi setiap orang juga punya kesempatan untuk berubah,” katanya.
Kisah Silas menjadi pengingat bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak selalu berakhir sia-sia. Bagi sebagian orang, seperti dirinya, masa hukuman justru menjadi awal dari perjalanan hidup yang baru.














