BANTUL | LENSANUSA.COM. – Suasana magis dan sarat nilai tradisi menyelimuti kawasan Petilasan Sendangwangi, Gunung Plencing, Wukirsari, Imogiri, Bantul pada Senin (20/7/2026) siang. Sebuah upacara seni budaya Jawa tradisional berupa Ruwatan Ageng digelar dengan khidmat sebagai permohonan penyucian diri manusia, alam, dan hubungan dengan Tuhan demi terciptanya keseimbangan energi untuk mewujudkan Memayu Hayuning Bawono.
Petilasan Sendangwangi sendiri merupakan situs sakral peninggalan Raja Mataram Islam tersohor, Eyang Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang bertahta pada rentang tahun 1613–1645 M. Nilai historis dan spiritual tempat ini semakin memperkuat kekhusyukan ritual.
Ritual Sudamala dan Pelarungan di Laut Selatan
Pengelola Petilasan Sendangwangi, KPH. Ir. Nurdiantoro Dharmaningrat, menjelaskan bahwa rangkaian agenda ritual diawali dengan kirab para sukerta (peserta yang diruwat) serta doa bersama. Puncak acara ditandai dengan pagelaran wayang kulit ruwatan ageng yang dibawakan oleh Ki Dalang Sepuh Margiwiyono dari Kowen, Sewon, Bantul, yang membawakan lakon sakral “Sudamala” untuk membuang segala sukerta (sengkolo/energi negatif).
Prosesi diawali dengan doa dan penyerahan simbolis tokoh pewayangan Batara Kala—perlambang raksasa berwatak angkara murka—serta sesaji khusus dari KPH. Ir. Nurdiantoro Dharmaningrat bersama perwakilan pejabat pemerintah kepada Ki Dalang.
Setelah pementasan dan pembacaan kidung doa Jawa, ritual dilanjutkan dengan prosesi ke kawasan Pantai Selatan. Seluruh sesaji dan uborampe terlebih dahulu didoakan di Cepuri Parangkusumo, untuk kemudian dilarung ke Laut Selatan. Melalui ritual labuhan ini, diharapkan segala bentuk bahaya, kesialan, dan ketidakseimbangan energi dapat dibuang dan dijauhkan dari para peserta serta bumi Nusantara.
Dihadiri Tokoh Bangsa dan Pejabat Negara
Berdasarkan laporan pembawa acara, tercatat sekitar 62 orang sukerta mengikuti ritual penyucian ini. Secara makro, ruwatan ini diniatkan untuk memohon keselamatan bangsa dan negara, serta memohon agar para pemegang amanah dan pemimpin negara—termasuk Presiden RI Prabowo Subianto yang diwakili oleh Kementerian Pertahanan dan Dewan Pertahanan Nasional (DPN) melalui Deputi Bidang Geopolitik DPN, Dr. Begi Hersutanto, S.H., M.A.—senantiasa diberikan kekuatan, semangat, dan bimbingan dari Tuhan Yang Maha Esa agar selalu melayani dan mengabdi dengan ikhlas demi kepentingan bangsa dan negara atas izin dan ridho Allah SWT.
Acara ini juga turut diikuti oleh jajaran Dewan Pertahanan Nasional (DPN) serta dihadiri oleh tokoh senior yang merupakan mantan Danjen Kopassus, Letnan Jenderal (Purn.) Muchdi PR, beserta pejabat lainnya. Kehadiran para tokoh nasional ini menjadi wujud nyata dari keinginan bersama seluruh elemen masyarakat, bangsa, dan negara demi terwujudnya kebaikan, kesejahteraan, serta keselamatan nusa dan bangsa.
Selain itu, hadir pula mantan Bupati Bantul, Drs. H.M. Idham Samawi, beserta sang istri yang juga mantan Bupati Bantul, Hj. Sri Suryawidati. Di sela-sela acara, pasangan tokoh masyarakat ini menyempatkan diri berfoto bersama sembari menggemakan “Salam Pancasila”.
“Kami ikut serta dalam ruwatan ini dan memohon doa restu agar senantiasa memperoleh kebaikan, keberkahan, dan keselamatan dari Allah SWT,” ungkap Idham Samawi di sela acara.
Melalui sinergi antara pelestarian budaya adiluhung Jawa dan spiritualitas yang mendalam, Ruwatan Ageng ini diharapkan membawa harmoni bagi alam semesta, penyucian diri, serta keselamatan bagi seluruh masyarakat dan pemimpin Indonesia. *SY.















