Home / NUSA TENGGARA TIMUR

Rabu, 10 Desember 2025 - 20:19 WIB

Dugaan Pelayanan Tidak Profesional di RSIA Mitra Ananda, Pihak Rumah Sakit Akui Ada Kesalahan Komunikasi 

WAINGAPU, LENSANUSA.COM — Pelayanan medis di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Mitra Ananda di Sumba Timur menjadi sorotan setelah seorang ibu hamil, Yantina Konga Wandal, kehilangan bayinya saat proses persalinan pada Senin, 8 Desember 2025. Suaminya, Marten Ndapagarang, menyampaikan sejumlah keluhan terkait komunikasi dan koordinasi tenaga medis ketika istrinya menjalani proses persalinan.

Menurut keterangan Marten, istrinya telah merasakan sakit hebat sejak pagi hari. Kondisi tersebut terjadi lebih cepat dari perkiraan medis yang sebelumnya memprediksi kelahiran normal pada 22 Desember, atau tindakan operasi pada 15 Desember 2025.

“Saya tidak menyangka prosesnya akan secepat itu karena dokter bilang masih sekitar satu minggu lebih. Tapi Senin pagi istri saya sudah merasa sakit luar biasa,” jelas Marten di kediamannya, RT 07 RW 04, Kelurahan Temu, Kecamatan Kanatang.

Marten menuturkan bahwa dirinya mendengar ucapan yang dinilai tidak pantas disampaikan oleh oknum tenaga medis kepada istrinya yang sedang kesakitan.

“Saya dengar ada yang bilang, ‘Ibu kalau mau punya anak, pikir-pikir dulu.’ Itu disampaikan saat istri saya sedang kesakitan. Saya pertanyakan, apakah pantas tenaga medis berbicara seperti itu kepada pasien?” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengaku bingung akibat arahan berbeda-beda dari petugas yang menangani proses persalinan.

“Model arahan berbeda-beda. Ada yang melarang ini, ada yang menyuruh begitu. Saya tidak tahu siapa komandonya. Itu membuat kami bingung dan semakin panik,” tambahnya.

Upaya persalinan tersebut akhirnya tidak berhasil menyelamatkan bayi yang dikandung istrinya. Marten menyatakan menerima takdir itu, namun tetap menyesalkan aspek komunikasi dan sikap tenaga medis selama penanganan.

Dokter Penanggung Jawab RSIA Mitra Ananda, dr. Ketut Ananda W. SpOG, menyampaikan belasungkawa dan permohonan maaf kepada keluarga pasien atas kejadian tersebut.

“Kami turut berdukacita yang mendalam atas berpulangnya anak dari Bapak Marten,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu malam, 10 Desember 2025.

Dr. Ketut mengakui bahwa peristiwa tersebut dipengaruhi oleh kesalahan komunikasi di antara bidan yang bertugas.

“Saya juga tidak mengerti kenapa sampai keluar kalimat seperti itu. Padahal manajemen kami di sini menerapkan prinsip 5S sapa, senyum, salam, sopan, dan santun,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pihaknya telah memanggil tenaga medis terkait untuk memberikan klarifikasi di hadapan manajemen rumah sakit. Sebagai langkah tindak lanjut, RSIA akan melakukan pembinaan serta memberi surat teguran atau peringatan secara tertulis.

“Ini tidak boleh terjadi lagi. Kami akan mengevaluasi dan membina agar pelayanan ke depan lebih baik,” tambahnya.

Marten berharap kejadian ini menjadi perhatian serius bagi pihak rumah sakit serta menjadi momentum peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak di Sumba Timur.

“Saya hanya ingin perlakuan yang manusiawi dan profesional. Bukan hanya untuk kami, tetapi untuk semua ibu yang akan melahirkan di sini,” pungkasnya. | Tim Liputan Lensanusa Sumba Timur.

Share :

Baca Juga

NUSA TENGGARA TIMUR

Kisah Inspiratif Bapak Andreas L Bili, Menghadapi Tantangan Hidup di Gubuk Sederhana

NUSA TENGGARA TIMUR

Penampilan Memukau SMP N.1 Umalulu di FLS2N Jenjang SMP Sumba Timur: Perpaduan Budaya dan Modernitas

NUSA TENGGARA TIMUR

Dominggus Habita Lamba Andung Sampaikan Klarifikasi dan Permohonan Maaf Terkait Video Viral

NUSA TENGGARA TIMUR

BPM Universitas Kristen Wira Wacana Sumba Gelar Orasi Terbuka Calon Ketua dan Sekretaris Senat Mahasiswa

NUSA TENGGARA TIMUR

Digitalisasi Sumba : Langkah Besar Menuju Masa Depan

HUKUM/KRIMINAL

Saat Emosi, Kamera, dan Media Sosial Menggantikan Hukum

NUSA TENGGARA TIMUR

Donatus: Keterlambatan Gaji Buruh PT MSM Bersifat Mutlak Melanggar UU Ketenagakerjaan

NUSA TENGGARA TIMUR

Kunjungan Kabid Penanggulangan Bencana Pada Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Mehang Mata