SUMBA TIMUR | LENSANUSA.COM – Perjalanan hidup Rislin Lemba Kapatang (23), gadis asal Desa, Wangga Bewa, Kecamatan Pinu Pahar, Sumba Timur, adalah kisah tentang keteguhan yang lahir dari penolakan dan sunyi. Mimpinya untuk melanjutkan pendidikan sempat terhenti karena tidak mendapat restu keluarga. Sekolah yang dipilih dianggap tidak menjanjikan gelar sarjana dan “titel” kebanggaan. Selama dua tahun, Rislin memilih mengalah dan mencoba meyakinkan, hingga akhirnya pada 2023 ia bersikeras melangkah meski harus menanggung hubungan yang renggang dengan sang ayah.
Puncak emosional terjadi pada hari wisuda, ketika Rislin dipercaya mewakili mahasiswa untuk menyampaikan pidato, termasuk dalam bahasa Inggris. Saat menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang tua, air matanya jatuh tak terbendung. Seusai acara, ayahnya menyampaikan kehadirannya sebagai bentuk “membayar utang” masa lalu karena pernah melarang Rislin bersekolah. Kalimat itu menyisakan luka, namun dukungan sang ibu menjadi sumber kekuatan utama yang membuat Rislin tetap tegak melangkah.
Usai wisuda, Rislin kembali melanjutkan perjalanannya sendiri. Ia berangkat ke Bali untuk menjalani internship, sembari menuliskan harapan-harapan hidup yang ia doakan. Tahun 2025, kesempatan besar datang: Rislin dipercaya mengikuti program ke luar negeri dan kini berada di Yordania. Bagi Rislin, perjalanan ke negeri bersejarah tersebut bukan sekadar pengalaman, melainkan bukti bahwa perjuangan panjangnya tidak sia-sia.
Kini, Rislin telah bekerja dan berdiri di atas kakinya sendiri, bahkan mampu membantu orang tua. Ia meyakini bahwa hal-hal yang permanen lahir dari proses yang tajam dan menyakitkan. Tanpa teriak dan tanpa membenci, Rislin memilih membiarkan hasil yang berbicara. Seperti ayat yang selalu menguatkannya, “Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesesakan” (Nahum 1:7), Rislin menjadi bukti kecil bahwa ketekunan dan iman mampu menembus batas mana pun. | Penulis : Ikzed














