YOGYAKARTA | LENSANUSA.COM. – Sudah menjadi hal yang maklum di saat memasuki hari-hari terakhir bulan Ramadan, berbagai toko dan pasar baju penuh sesak oleh orang-orang yang ingin membeli baju baru sebagai pakaian di hari raya Idul fitri.
Mulai anak-anak hingga orang dewasa, mulai toko-toko kecil di pinggiran jalan hingga mal-mal besar di tengah kota suasananya sama, penuh sesak oleh orang-orang yang sibuk berburu baju baru bahkan berburu seragam baru untuk dipakai sekeluarga.
Membeli baju baru seolah-olah menjadi hal yang tak boleh ditinggalkan saat menjelang IdulFitri, selain membeli aneka macam suguhan untuk para tamu yang akan silaturrahmi saat hari yang ditunggu-tunggu itu datang.
Tradisi mengenakan baju baru saat Lebaran sudah mendarah daging di masyarakat kita.
Namun, di tengah perubahan zaman dan kesadaran akan konsumsi berkelanjutan, muncul pertanyaan: apakah baju baru benar-benar menjadi syarat mutlak untuk merayakan kemenangan?
Esensi Idul Fitri adalah tentang kembali ke fitrah dan merayakan keberhasilan ibadah selama Ramadan.
Baju baru hanyalah simbol luar yang bersifat opsional. Yang lebih utama adalah kebersihan hati dan semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hari-hari mendatang.
Memaksakan diri membeli pakaian mahal hanya demi gengsi bisa merusak ketenangan finansial pasca-Lebaran.
Merayakan hari raya dengan pakaian terbaik yang sudah ada adalah bentuk rasa syukur yang luar biasa. Kerapian dan kesopanan jauh lebih berharga daripada label harga pada pakaian. *SY.















