Home / DAERAH / PEKANBARU / SOSIAL BUDAYA

Rabu, 5 Februari 2025 - 00:48 WIB

Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menyambut baik rencana menebalkan muatan lokal (Mulok) Melayu Riau di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II

PEKANBARU| LENSANUSA.COM -Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menyambut baik rencana menebalkan muatan lokal (Mulok) Melayu Riau di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II (Bandara SSK II) , Pekanbaru. Lembaga ini akan memberi saran baik diminta atau tidak diminta untuk mewujudkan rencana tersebut karena merupakan bagian kegiatan LAMR itu sendiri berdasarkan amanah nasional dan daerah, bahkan kemanusiaan secara luas.

Hal tersebut muncul dalam kunjungan General Manager II Angkasapura SSK II Radityo Ari Purwoko yang didampingi dia stafnya ke LAMR Prov Riau, Jln. Diponegoro, Senin (3/2/2025). Mereka diterima Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil didampingi sejumlah pengurus seperti Dt Tarlaili, Dt Fadli, Dt Syaiful Anuar, dan Dt Toni Widiastono.

Menurut Radityo Ari Purwoko, pihaknya berkeinginan, sekali lihat saja, SSK II langsung memperlihatkan sisi Melayu Riau. “Begitu turun dari pesawat, kesan Melayu Riau langsung menyapa mata orang, begitu juga dengan bunyinya, bahkan aromanya. Hidung kita misalnya, langsung mencium satu bau sebagai aroma Arab ketika berada di tanah Arab, lalu aroma Melayu Riau di tanah Riau, bagaimana? ” kata Radityo Ari Purwoko, akrab disapa Oki.

Untuk itu, pihak SSK II telah mengancang-ancang desainer ternama untuk menggarapnya. Tapi bukan mereka yang mendikte konsep dan wujud desainnya, tetapi Melayu Riau itu sendiri antara lain lewat LAMR. Diperlukan diskusi-diskusi intensif untuk itu mulai tahun sekarang yang diharapkan dapat terealisasi tahun 2026.

Dalam kesempatan itu, Datuk Seri Taufik menjelaskan dinamika peradaban Melayu Riau yang membentuk wujud seni bina sekaligus ornamen Melayu Riau. Hal ini kemudian dikonkritkan Dt Syaiful dengan menjelaskan kepedulian ruang ornamen dan perlambang (ikon) Melayu Riau.

Peneliti budaya itu mencontohkan penggunaan suatu motif mungkin hanya cocok di suatu tempat, tidak di bidang lain. Motif kelok pakis misalnya, senantiasa dipakai di tempat yang berkaitan langsung dengan adat, tapi tidak di tempat umum. Begitu pula penggunaan warna, hijau yang menyarankan kesuburan dan kerakyatan, sedangkan kuning untuk kedaulatan maupun keagungan.**

 

Editor: Andi Champay

Share :

Baca Juga

DAERAH

Raih Kategori Baik, Sekda Harapkan Indeks SPBE Pekanbaru Terus Meningkat

DAERAH

Musholla Nurul Jannah Jadikan Momentum 1 Muharam 1448 H Sebagai Gerakan Perubahan dan Persatuan Umat

DAERAH

Hidupkan Kawasan Sungai Siak, Dermaga Pasar Rakyat Resmi Beroperasi 

DAERAH

Musrenbang RKPD Tahun 2024,, Bupati Sukiman Paparkan Fokus Prioritas Pembangunan Rohul

DAERAH

SPRI Berbagi, Kabid Rudi Fadrial : Berbagi Itu Indah

KAMPAR

Menunggu Korban, Tiang Jembatan Penghubung Lubuk Agung-Sungai Sarik Kampar Kiri Lapuk

DAERAH

Direktur RSUD Arifin Achmad Laporkan Jurnalis ke Polda Riau, Dian Wahyuni: Hanya Malaikat Maut yang Kita Takuti

ADVERTORIAL

Bupati Kasmarni Instruksikan Modernisasi Pelabuhan Ro-Ro via E-Ticketing