PEKANBARU | LENSANUSA.COM-Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas. Dari lingkungan kelurahan, lahan produktif dapat diolah, teknologi dimanfaatkan, dan kolaborasi dibangun untuk menghasilkan pangan sekaligus menjaga lingkungan.
Semangat tersebut terlihat dalam Launching Ekosistem Digital ProKlim dan Panen Raya Semangka dalam rangka Agrowisata ECOHUB 2026 yang digelar di Agrowisata Lestari, Jalan Kurnia, Kelurahan Agrowisata, Kota Pekanbaru, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara penguatan program lingkungan berbasis masyarakat, pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan pertanian perkotaan yang memiliki nilai ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bappeda Kota Pekanbaru Firdaus, Ketua DPW LDII Riau Dr. Imam Suprayogi, ST., MT., Sekretaris Ir. H. Budi Mulyono, drg. Vivi Yanti selaku perwakilan PUM Riau, penggiat lingkungan EcoHub 2026 Awaldi Hasibuan, Lurah Agrowisata Zulken, SP., serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Lurah Agrowisata Zulken, SP. menegaskan dukungannya terhadap pengembangan Ekosistem Digital ProKlim. Menurutnya, program tersebut memiliki manfaat strategis karena dapat membantu memperkuat basis data kelurahan sekaligus mendukung pelaksanaan program pembangunan Pemerintah Kota Pekanbaru.
“Launching Ekosistem Digital ProKlim dan panen raya semangka ini sangat bermanfaat, terutama untuk mendukung data kelurahan dan menyukseskan program Pemerintah Kota Pekanbaru,” ujar Zulken.
Bang Zulken menilai, penggabungan digitalisasi, kepedulian lingkungan, dan pertanian menjadi langkah konkret yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Tidak hanya berbicara mengenai lingkungan, kegiatan tersebut juga dikaitkan dengan agenda ketahanan pangan nasional.
“Program ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, khususnya terkait swasembada pangan. Di dalamnya termasuk penguatan lingkungan serta pengembangan pertanian yang hari ini diwujudkan melalui panen raya semangka,” jelasnya.
Menurut Zulken, Kelurahan Agrowisata memiliki potensi untuk mengembangkan pertanian perkotaan sekaligus menjadi ruang edukasi bagi masyarakat. Lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara produktif, sementara kegiatan pertanian dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada momentum panen raya, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat secara lebih luas.
“Harapan kami, kegiatan ini dapat terus berkembang sehingga ke depan swasembada pangan di Kelurahan Agrowisata bisa menjadi salah satu percontohan, khususnya bagi kelurahan-kelurahan lain di Kota Pekanbaru,” tutup Zulken.
Panen raya semangka menjadi bukti bahwa upaya membangun ketahanan pangan dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan masyarakat. Pemerintah kelurahan, komunitas, penggiat lingkungan, dan masyarakat dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Digitalisasi menghadirkan data. Lingkungan menyediakan ruang. Pertanian menghasilkan pangan. Dari Kelurahan Agrowisata, ketahanan pangan dibangun dari bawah—ditanam melalui kolaborasi, dirawat dengan kepedulian, dan diharapkan tumbuh menjadi gerakan bersama.
Editor: Andi Champay















