MEDAN | LENSANUSA.COM — Nasib pilu yang dialami puluhan mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Universitas Bunda Thamrin (UBT) Medan kian menyayat hati. Tak hanya menghadapi ketidakpastian program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Tahun 2025 yang berujung putus studi, para mahasiswa rantau ini ternyata juga dikeluarkan dari fasilitas asrama kampus dan dihentikan jatah makannya secara sepihak.
Melihat kondisi darurat kemanusiaan ini, Yayasan Akar Nesia Cakrantara (YANC) berkolaborasi dengan Forum Pemuda NTT Se-Sumatera Utara (Sumut) bergerak cepat menyelamatkan para mahasiswa agar tidak terlantar di tanah rantau.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tekanan psikologis dialami mahasiswa sejak pertengahan Mei 2026. Pihak kampus mengeluarkan kebijakan ekstrem yang menghentikan pelayanan dasar bagi para mahasiswa terdampak KIP.
Sejak tanggal 16 Mei 2026, jatah makan dan minum para mahasiswa di asrama sudah tidak dilayani lagi oleh pihak asrama. Puncaknya, pada tanggal 22 Mei 2026, para mahasiswa asal wilayah 3T ini dipaksa dan disuruh keluar dari asrama Universitas Bunda Thamrin.
“Pihak kampus sama sekali tidak menunjukkan tanggung jawab. Anak-anak disuruh keluar dari asrama dan tidak dilayani makan lagi. Kami dari Yayasan Akar Nesia Cakrantara langsung mengambil sikap untuk menolong mereka yang tidak punya rumah dan tidak punya keluarga di Medan,” ungkap Pdt. Rizky dalam keterangannya
Untuk bertahan hidup, yayasan bersama Forum Pemuda NTT Se-Sumut terpaksa membuka open donasi guna memenuhi kebutuhan makan minum darurat dan menyediakan tempat penampungan sementara bagi para mahasiswa yang dikeluarkan dari asrama.
Menyadari biaya hidup, kos, serta makan minum di Kota Medan terlalu berat bagi mahasiswa yang sudah kehilangan harapan studi, Yayasan Akar Nesia Cakrantara mendatangi kantor PT PELNI (Persero) Cabang Medan untuk mengajukan surat permohonan bantuan pemulangan.
Permohonan kemanusiaan tersebut langsung disambut hangat oleh manajemen PT PELNI Cabang Medan. Staf Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum PT PELNI Cabang Medan, Preston Jr., menegaskan komitmennya untuk memberikan kuota tiket kapal laut bagi para mahasiswa NTT agar bisa pulang ke kampung halaman dengan layak.
“Melihat hal ini, kami dari PT PELNI merasa empati dan juga sejalan dengan slogan melayani sepenuh hati. Dengan ini kami membantu untuk teman-teman mahasiswa dari NTT ini untuk dapat kembali pulang karena mengalami putus pendidikan di Kota Medan,” ujar Preston Jr.
Tragedi ini menjadi bukti nyata lepasnya tanggung jawab sosial dan moral dari Universitas Bunda Thamrin serta Yayasan Gleni yang awalnya merekrut mahasiswa dengan iming-iming beasiswa penuh. Slogan pembiayaan gratis kini justru berganti dengan pengusiran massal mahasiswa miskin di tengah kota orang.
Saat ini, Yayasan Akar Nesia Cakrantara telah memegang bukti dokumentasi koordinasi bersama pimpinan PT PELNI Cabang Medan dan sedang merampungkan proses administrasi keberangkatan agar anak-anak NTT tersebut dapat segera kembali ke daerah asal mereka dengan selamat. |**Ikzed














