PEKANBARU| LENSANUSA.COM-Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah Riau dan kondisi paling mengkhawatirkan terasa di Kota Pekanbaru. Pada Senin (24/8/2026), kualitas udara Pekanbaru terpantau berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, dengan konsentrasi PM2.5 yang sempat mencapai 235,7 µg/m³ berdasarkan pemantauan BMKG.
Situasi ini bukan lagi sekadar persoalan jarak pandang atau bau asap. Ini menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat. Ketika udara yang seharusnya menjadi kebutuhan paling dasar justru dipenuhi partikel polutan, maka negara dan pemerintah daerah tidak boleh hanya menunggu keadaan membaik.
Bahkan, pada Senin malam, pemantauan kualitas udara Pekanbaru menunjukkan AQI mencapai 214 atau kategori sangat tidak sehat, dengan PM2.5 sekitar 138,3 µg/m³.
Kabut asap juga telah berdampak terhadap aktivitas pendidikan. Pemerintah Kota Pekanbaru menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik PAUD hingga SMP sebagai langkah perlindungan terhadap paparan asap.
Ketua Yayasan Tanjak Bertuah Riau, Andi Champay, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih buruk.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya warga Pekanbaru, untuk menjaga kesehatan dan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak ada keperluan mendesak. Jangan menunggu kondisi kesehatan terganggu baru mengambil langkah pencegahan. Gunakan masker saat harus beraktivitas di luar dan lindungi anak-anak serta kelompok masyarakat yang rentan,” ujar Andi Champay.
Menurutnya, persoalan kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kualitas hidup masyarakat.
“Udara bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, penanganan karhutla harus dilakukan secara serius, cepat dan berkelanjutan. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban dari asap yang berulang setiap tahun,” tegasnya.
Sementara itu, Fredi, menyampaikan bahwa masyarakat harus ikut berperan dalam menjaga kesehatan dan lingkungan di tengah kondisi udara yang kurang sehat.
“Kita tidak boleh menganggap remeh kabut asap. Masyarakat harus disiplin menjaga kesehatan, mengurangi kegiatan di luar rumah, terutama anak-anak dan orang tua. Di sisi lain, upaya pencegahan dan penanganan sumber asap juga harus menjadi perhatian bersama,” ujar Fredi.
Fredi menegaskan, kondisi seperti ini membutuhkan kepedulian seluruh pihak, bukan hanya pemerintah.
“Ketika udara mulai tidak sehat, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Mari saling mengingatkan, menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran yang dapat memperburuk kondisi udara,” pungkasnya.
Yayasan Tanjak Bertuah Riau mengajak masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, serta mengutamakan kesehatan keluarga hingga kondisi udara kembali membaik.
Sumber: Tanjak Bertuah Riau















