WAINGAPU | LENSANUSA.COM — Alumni BEM Nusantara wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mengecam keras dugaan kasus kekerasan seksual yang diduga melibatkan seorang oknum dosen di lingkungan Universitas Kristen Wira Wacana Sumba.
Kecaman tersebut disampaikan Mantan Kepala Bidang Advokasi dan Kajian Isu Strategis BEM Nusantara wilayah NTT, Martinus Hiwa Wunu. Ia menilai dugaan tindakan tersebut merupakan bentuk penyalahgunaan relasi kuasa di lingkungan akademik.
Menurutnya, dosen memiliki otoritas dalam proses pendidikan yang seharusnya digunakan untuk membimbing mahasiswa, bukan disalahgunakan dalam bentuk apa pun yang dapat merugikan mahasiswa.
“Lingkungan kampus harus menjadi ruang aman. Tidak boleh ada pembiaran terhadap dugaan kekerasan seksual, terlebih jika melibatkan relasi kuasa,” ujarnya kepada media, Rabu (27/5/2026).
Martinus menegaskan bahwa penanganan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi telah memiliki dasar hukum yang jelas di Indonesia. Salah satunya melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang mengatur pencegahan, penanganan, perlindungan korban, hingga pemulihan dalam kasus kekerasan seksual.
Selain itu, ia juga menyoroti keberadaan Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 yang mewajibkan setiap perguruan tinggi membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), menyediakan mekanisme pelaporan yang aman, serta menjamin perlindungan korban dari intimidasi maupun diskriminasi.
Menurut Martinus, setiap perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk menegakkan kode etik akademik dan disiplin institusi secara tegas apabila terdapat pelanggaran yang terbukti melalui proses pemeriksaan yang adil dan transparan.
Ia mengajak seluruh sivitas akademika dan masyarakat untuk turut mengawal proses penanganan kasus tersebut agar berjalan secara transparan, akuntabel, serta berpihak pada perlindungan korban tanpa mengabaikan asas praduga tak bersalah.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak kampus dan aparat penegak hukum diketahui masih melakukan proses pendampingan dan penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan kasus tersebut.| *Ikzed














