SUMBA, LENSANUSA.COM — Rangkaian kegiatan Mission Trip mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Jakarta di Pulau Sumba telah berakhir dengan kesan mendalam. Acara penutupan dan perpisahan yang berlangsung hangat pada Jumat (24/7/2026) menjadi momen apresiasi saling menguatkan antara tim pelayanan dan pelayan setempat.
Selama program berlangsung, para mahasiswa STTII Jakarta melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan spiritual dan sosial di lingkungan gereja maupun masyarakat sekitar. Lingkup pelayanan meliputi Ibadah Raya, Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), Sekolah Injil Liburan (SIL), hingga pelayanan anak di GBIS Sola Gratia dan PAUD Bintang Bangsa.
Pdt. Rizky, mewakili jemaat GBIS Sola Gratia Sumba, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas pengabdian serta dedikasi seluruh tim selama berada di lokasi misi.
“Jemaat GBIS Sola Gratia Sumba sangat terberkati dengan pelayanan Ibu Lidia bersama tim. Meskipun singkat, ada banyak nilai yang kami pelajari dari pelayanan teman-teman di ibadah, SIL, maupun KKR. Pesan kami, tetap semangat dan terus berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan. God bless you, STTII Jakarta maju terus,” ungkap Pdt. Rizky.
Sebagai bentuk penghormatan, simbol keakraban, dan rasa terima kasih, acara penutupan diakhiri dengan tradisi pengalungan kain tenun ikat khas Sumba kepada tim STTII Jakarta.
Dosen Pendamping Mahasiswa STTII Jakarta, Lidia H. Parhusip, M.Th., menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas sambutan hangat dari Pdt. Rizky (Mbadi), jemaat GBIS Sola Gratia, serta pengelola PAUD Bintang Bangsa.
Dalam kesempatannya, Lidia juga mengungkapkan kekagumannya terhadap kearifan lokal masyarakat Sumba, khususnya keindahan kerajinan tenun ikat yang diproduksi secara tradisional menggunakan bahan-bahan alami.
“Kami sangat bersyukur diberi kesempatan melayani di gereja maupun PAUD. Kain tenun di Sumba ini sangat indah dengan motif-motifnya yang khas dan sarat cerita. Luar biasa karena semuanya terbuat dari bahan alami dan dikerjakan secara handmade. Sumba sangat keren, dan kami berharap potensi ini terus dikembangkan agar Sumba semakin maju. Sumba akan selalu menjadi bagian dari topik doa kami,” tutur Lidia H. Parhusip.
Momen pengalungan kain tersebut tidak hanya menjadi penanda perpisahan secara fisik, tetapi juga mempererat tali persaudaraan serta komitmen dukungan doa bagi pertumbuhan pelayanan gereja dan pembangunan masyarakat di Sumba. |** Ikzed
















