Home / OPINI

Minggu, 15 Februari 2026 - 07:43 WIB

Sambutan Ramadhan Tiba Semoga Membuatmu Kembali Dalam Fitrah Hening Dalam Do’a Kebaikan

Catatan, Bengkalis 15 Febuari 2026.
Berbakti kepada orang tua sering terasa berat bukan karena tuntutannya, melainkan karena hati yang belum sepenuhnya tunduk. Padahal Islam tidak hanya memerintahkan bakti sebagai etika sosial, tetapi sebagai ibadah spiritual yang menentukan kualitas iman, umur, dan keberkahan hidup. Doa menjadi pintu paling sunyi sekaligus paling jujur untuk menumbuhkan bakti itu.

Berbakti kepada orang tua bukan sekadar kewajiban moral, tetapi poros utama keberagamaan. Al-Qur’an dan sunnah menempatkan birrul walidain tepat setelah tauhid. Ini menandakan bahwa hubungan vertikal kepada Allah tidak akan pernah utuh jika hubungan horizontal dengan orang tua dibiarkan retak. Banyak anak merasa berat berbakti bukan karena orang tuanya buruk, melainkan karena egonya lebih dominan daripada kesadarannya sebagai hamba. Islam mengajarkan: sebelum menuntut orang tua ideal, luruskan dulu hati sebagai anak yang taat.

Allah Ta‘ala berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)

Ayat ini menyingkap hakikat bakti: bukan soal besar kecilnya pemberian, tetapi tentang sikap hati, nada suara, dan adab paling halus. Bahkan keluhan sekecil “ah” pun dilarang. Ini menunjukkan bahwa berbakti adalah latihan menundukkan ego. Semakin dewasa usia orang tua, semakin besar pahala kesabaran anak. Di sinilah banyak anak gagal: ingin dihormati, tetapi lupa menghormati; ingin didengar, tetapi enggan mendengar.

Doa yang ditampilkan pada gambar bersumber dari Al-Qur’an, doa seorang anak yang telah sampai pada kedewasaan ruhani:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ
“Ya Tuhanku, bimbinglah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Perhatikan struktur doa ini. Permohonan bakti didahului dengan permintaan agar mampu bersyukur. Artinya, bakti lahir dari kesadaran nikmat, bukan dari keterpaksaan. Anak yang bersyukur akan melihat orang tua sebagai jalan rahmat, bukan beban hidup. Doa ini juga menegaskan bahwa amal saleh sejati adalah yang diridhai Allah, dan salah satu ukurannya adalah bagaimana sikap kita kepada orang tua.

Rasulullah ﷺ bersabda:
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Keridaan Allah tergantung pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini tidak bermaksud menuhankan orang tua, tetapi menunjukkan betapa besar posisi mereka dalam penilaian Allah. Selama perintah orang tua tidak mengandung maksiat, keridaan mereka adalah jalan cepat menuju rida Allah. Karena itu, doa agar dimampukan berbakti sejatinya adalah doa agar diselamatkan dari jalan murka Ilahi.

Allah juga mengingatkan tentang hakikat manusia dan ujian usia dalam Surah At-Tin:
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ۝ وَطُورِ سِينِينَ ۝ وَهَٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ ۝ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ۝ ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ ۝ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ ۝ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
(QS. At-Tin: 1–8)

Ayat ini sering dibaca, tetapi jarang direnungi. Manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, lalu bisa jatuh ke tempat serendah-rendahnya kecuali iman dan amal saleh yang menyelamatkan.

Salah satu amal saleh paling konkret dan berkelanjutan adalah bakti kepada orang tua, terutama ketika usia telah menua dan fisik melemah. Di situlah kualitas iman diuji secara nyata.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
أَنْفُهُ، ثُمَّ أَنْفُهُ، ثُمَّ أَنْفُهُ. قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
“Celakalah dia, celakalah dia, celakalah dia.” Ditanyakan, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan tua, lalu ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Hadis ini keras, tetapi jujur. Orang tua yang menua adalah tiket emas menuju surga. Jika kesempatan itu disia-siakan, yang rugi bukan orang tua, melainkan sang anak. Maka ketika terasa berat berbakti, Islam tidak menyuruh kita mengeluh, tetapi mengajarkan kita berdoa. Doa melembutkan hati, meluruskan niat, dan mengubah keterpaksaan menjadi keikhlasan.

Berdoa agar berbakti bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kejujuran iman. Karena hanya orang yang sadar keterbatasan dirinya yang mau memohon pertolongan Allah. Dan siapa yang sungguh-sungguh memohon dibimbing untuk bersyukur, beramal saleh, dan berbakti, maka Allah akan memudahkan jalannya, meski perlahan, meski sunyi, tetapi pasti.

Penulis: Jumadi

Share :

Baca Juga

DI YOGYAKARTA

Penerapan Managemen Sumber Daya Manusia (MSDM) Pekerja Bangunan di Indonesia

DI YOGYAKARTA

Tradisi Baju Baru untuk Lebaran, Tidak perlu memaksakan !

DAERAH

Utang Sewa Tak Dilunasi, Eks Sekdes Ngadulanggi Kabur

DI YOGYAKARTA

Oleh-Oleh Asli Khas Jogja Selain Bakpia dan Gudeg yang Wajib Dicoba

DI YOGYAKARTA

Hari Palang Merah Indonesia Tahun 2025, Perjalanan 80 Tahun

DI YOGYAKARTA

Jangan Rampas Hak Buruh Atas Jaminan Sosial

DI YOGYAKARTA

Mustafa: Manfaatkan Kecanggihan Teknologi, Modus Baru Koruptor untuk Money Laundry

DAERAH

Ibu-Ibu di Posko KBN Padang Bulan Dapat Bansos Dari Polres Labuhanbatu